Sabtu, 14 April 2012

filsafat pendidikan


HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DAN HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA DAN PENDIDIKAN
A.Pandangan Filsafat Tentang Hakikat Manusia
Manusia adalah subyek pendidikan,sekaligus juga sebagai objek pendidikan. Manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subyek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan.Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anakana mereka,generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaan, terutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakanmisi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilanlai yang dikehenaki masyarakat bangsa itu.[1]
Manusia yang belum dewasa,dalam proses perkembangan kepribdiaannya,baik menuju pembudayaan maupaun proses kematangan dan integritas,adalah”objek pendidikan”. Artinya mereka adalah sasaran atau “bahan” yang dibina. 
Manusia sebagai subjek dihadapkan kepada fenomena baru dalam kesadaannya,yakni menghadapi problem yang jauh lebih sulit daripada prblema-problema sebelumnya.Manusia mulai bertanya,siapakh atau apakah aku ini sesunggunya. Manusia sebagai subjek menjadikan dirinya sendiri(sebagai pribadidan sebagai keutuhan) sebagai objek yang menuntut pengertian,pengetahuan .atau pemahamannya.Kemudan untuk mengerti danmengenali diri sendiri, manusia  jujur mengakuai kesukaran-kesukarannya,pa yang di akui sebagai pengertian hanyalah suatu kesmpulan yang masih kabur  dan belum representative.Dari kenyataan ini manusia berkesimpulan pula bahwa jauh lebih sulit untuk mengerti dan memahami kepribadian orang lain.
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan gambaran yang membicarakan tentang manusia dan makna filosofs dari penciptaannya. Manusia merupakan Makluk-Nya paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini ibn ’Araby melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia,yang meimliki daya hidup,mengetahui,berkehendak,berbicara,melihat, mendengar,berfikir dan memutuskan”.[2]
Dalam Antropologi filsafat dikemukakan ada beberapa aliran yang mengemukakan mengenai hakikat manusia,yaitu:
a.       Aliran serba zat
Aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau materi,ala mini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsure dari alam,maka dari itu manusia adalahzat atau materi.
b.      Aliran serba ruh
Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada didunia ni adalah ruh,juga hakikat manusia adalah ruh adapun zat itu adalah manifestasi daripada ruh diatas dunia ini.Dengan demikian aliran ini menganggap ruh itu adalah hakikat seadngkan badan ialah penjelmaan atau bayangan.
c.       Aliran dualisme
Aliran ini menganggap nahwa manusia pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini masing-masng merupakan unsure asal,yang adanya tidak tergantung satu sama lain.Jadi badan tidak berasal dari ruh dan ruh tidak berasal dari badan.Perwjudannya manusia tidak sera dua,jasad dan ruh.
Antara badan dan ruh terjsadi sebab akibat yang mana keduanya saling mempengaruhi.[3]
d.      Aliran Eksistensialisme
Aliran filsafat modern berfikir tentang hakikat manusia merupakan eksisitensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia.Jadi intinya hakikat manusia itu yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh.
Berdasarkan kenyataan bahwa manusia itu memiliki badan jasmani dan mempunyai roh, jiwa atau rohani. Berbicara mengenai badan manusia kita menemukan paling tidak 4 macam pandangan, yaitu sebagai berikut :
1.      Pandangan Idealistis tentang badan manusia.
Pandangan ini mengatakan bahwa badan adalah sinar dari roh. Dalam hal ini roh diibaratkan seperti listrik, badan adalah cahaya. Badan dan roh tidak prnah bertentangan satu sama lain. Badan seolah-olah tak ada, yang ada hanya roh.
2.      Pandangan Materialistis tentang badan manusia.
Pandangan materialistis ini dengan tegas mengatakan bahwa yang ada hanya badan. Orang tak perlu berpikir lebih lanjut apa dibalik badan itu. Yang Nampak pada kita ialah bahwa manusia berbadan yang bersifat materi, yang terdiri dari darah, daging, tulang dan sebagainya seperti makhluk hidup yang lain. Dengan begitu, kesenangan atau kebahagian tidak dapat dilepaskan dari materi. Jadi seluruh manusia itu adalah jasmani.
3.      Pandangan Ketiga ini berpendapat bahwa badan adalah merupakan musuh dari roh. Antara badan dan roh selalu bertentangan satu sama lain. Pandangan ini disebut juga pandangan dualistis artinya tidak memandang badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada, melainkan sebagai dua hal yang berdiri sendiri.
4.      Pandangan keempat ini memandang badan manusia sebagai jasmani yang dirohanikan atau rohani yang dijasmanikan. Badan bukan hanya materi.
Dengan pandangan ini maka antara badan dan roh adalah menyatu dalam pribadi manusia.
Menurut Antropologi metafisika hakikat manusia adalah  integrasi antara wataknya sebagai makhluk individu,sebagai makhluk social dan sebagai makhluk susila.Jadi manusia itu sebagai pemimpin dan dipimpin,sebelum menjadi pemimpin manusia harus dipimpin atau diajarkan suatu pendidikan agar bersifat dewasa yang bertanggung jawab. Manusia sebagai pemimpin atau khalifah mempunyai arti kuasa atau wakil,dengan demikian hakikatnya manusia merupakan wakil Allah di muka bumi.
            Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan roh. Badan dan roh masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua substansi (substansi=unsur asal sesuatu yang ada) dua-duanya adalah substansi alam. Sedang alam adalah makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mu’minun : 12-14
             Dari ayat tersebut jelaslah bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan fisik manusia, semuanya berproses menurut hukum-hukum alam yang material. Pada kejadian manusia, sebelum manusia itu dilahirkan dari rahim ibunya, Allah telah meniupkan roh ciptaan-Nya kedalam tubuh manusia tersebut. Roh yang yang berasal dari Allah itulah yang menjadi hakikat manusia.[4]
Dilihat  dalam Al-Qur’an ada beberapa istilah  yang digunakan untuk menunjukkan hakikat manusia,yaitu:[5]
1). Kata Al-Basyar
Dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali dan tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi Al-Basyar berart Kulit kepala,wajah,atau tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Penamaan ini menunjkan makna bahwa secara biologis yang mendominasi manusia adalah pada kulitnya,disbanding dengan yang lain.
Dari makna tersebut dapat dipahami bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki segala sifat kemanusiaan dan keterbatasan, seperti makan,minum,kebahagiaan dan ain sebagainya. Penunjukan kata Al-Basyar ditujukan Allah kepada seluruh manusia tanpa terkecuali.
2).Kata Al-Insan
Kata al-Insan dinyataka dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.Secara etimologi Al-Insan dapat diartikan harmonis,lemah lembut,tanpak dan pelupa. Kata Al-Insan digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan totalitas manusia sebagai akhluk jasmani dan rohani.Harmonisasi kedua aspek ersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya mengantarkan manusia sebagai makhluk Allah yang unik dan istimewa,sempurna dan memilki perbedaan individual antara satu dengan yang lain,dan sebagai makhluk dinamis,sehingga mampu menyandang predikat khalifah Allah di muka bumi.
3).Kata An-Nas
Dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 240 kali dan rsebar dalam 53 surat.Kata An-Nas menunjukan kepada eksistensi manusia sebagai makhluk social secara keseluruhan,tanpa melihat status keimanan atau kekafirannya.
4). Kata Bani Adam
Kata ini di jumpai dalam Al-Qur’an sebanyak 7 kali an ersebar dalam tiga surat.Secara etimologi, kata bani Adam menunjukan arti keturunan Nabi Adam a.s. Menurut al-Thabathaba’I, penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum.Dalam hal ini,setidaknya ada tga aspek yang dikaji,yaitu:
a.       Anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah,diantaranya adalah dengan berpakaian guna menutup aurat.
b.      Mengigatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerusmus pada bujuk rayu setan yang mengajak pada ke ingkaran.
c.       Memanfaatkan semua ang ada di alam semesta dalam rangka iadah dan mentauhidkan-Nya.
Jadi terlihat bahwa pemaknaan kata bani Adam ,lebih ditekankan pada aspek amaliah manusia,sekaligus pemberi arah kemana dan dalam bentuk apa aktivitas itu dilakukan.baik itu kbersifat kemuliaan atau kesesatan.
B.Hubungan antara Filsafat,Manusia,dan Pendidikan
1.Manusia dan Filsafat
Manusia itu dianugerahi akal fikiran oleh Allah SWT yang senantiasa berfikir dan menganalisa berbagai kejadian dan fenomena dalam kehidupannya. Manusia memeikirkan tentang dirinya sebagai makhluk yang lemah di alam jagad raya ini. Dia juga memikirkan alam ghaib, alam di balik dunia yang nyata ini, alam meta fisika dan dia pun mulai memebangun fikiran filsafat. Didalam sejarah umat manusia, setelah kemampuan intelektual dan kemakmuran manusia meningkat, maka tampillah manusia-manusia unggul merenung dan memikir, menganalisa, membahas dan mengupas berbagai problema dan permasalahan kehidupannya. Maka lahirlah untuk pertama kalinya filsafat alam periode pertama. Selanjutnya filsafat alam periode kedua, sophisme, filsafat klasik. Diantara filosof Pada periode klasik adalah dipelopori oleh Socrates dilanjutkan oleh muridnya plato dan aristoteles. Plato dikenal dengan bapak idealis karena filsafatnya dikenal dengan istilah filsafat idealism, yaitu bahwa apa saja yang ada di ala mini bukanlah benda yang sebenarnya, dia hanya merupakan baying-bayang dari benda nyata yang berada di balik benda itu. Sedangkan aristoteles, mengemukakan filsafatnya yang dikenal dengan aliran filsafat realisme. Yang inti ajarannya adalah bahwa semua benda-benda yang kita lihat itu benar-benar ada dan nyata. Bukan bayangan atau khayalan belaka. Kemudian filsafat ini terus berkembang sampai pada saat sekarang yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemikiran manusia.[6]
2. filsafat dan Teori Pendidikan
Banyak masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan metode ilmiah semata dan butuh filsafat untuk menyelesaikannya dengan berbagai pendekatan filosofis ya akan menghasilkan pandangan-pandangan terhadap permasalahan tersebut. Ada hubungan antara filsafat dengan teori pendidikan, diantara hubungan itu adalah :[7]
1.      Filsafat dalam arti analisa filsafat adalah sala satu cara pendekatan yang digunakan oleh pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan.
2.      Filsafat juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata.
3.      Filsafat juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori pendidikan menjai ilmu pendidikan atau paedagogik. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa da memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut untuk selanjutnya disimpulkan serta disusun teori-teori pendidikan yang realistis , dan selanjutnya berkembanglah ilmu pendidikan.
3.Hubungan antara filsafat,Manusia dan Pendidikan
a. Kedudukan filsafat dalam Ilmu pendidikan
Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. Lambat laun sesuai dengan sifatnya, manusia tidak pernah merasa puas dengan meninjau sesuatu hal dari sudut yang umum, melainkan juga ingin memperhatikan hal-hal yang khusus. Maka kemudian timbullah penyelidikan mengenai hal-hal yang khusus yang sebelumnya masuk dalam lingkungan filsafat. Jika penyelidikan ini telah mencapai tingkat yang tinggi, maka cabang penyelidikan itu melepaskan diri dari filsafat sebagai cabang ilmu pengetahuan yang baru dan berdiri sendiri. Adapun yang pertama kali yang melepaskan diri dari filsafat ialah ilmu pasti, kemudian disusul oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, dengan rincian antara lain :
1.      Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai objek dan problem
2.      Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dan denan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan.
3.      Disamping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan
4.      Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memperoleh sifat ilmu itu kalau menepati syarat-syarat yang telah ditentukan oleh filsafat. Artinya tidak mungkin tiap ilmu itu meninggalkan dirinya sebagai ilmu pengetahuan dengan meninggalkan syarat yang telah ditentukan oleh filsafat.
5.      Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada tiap ilmu pengetahuan.
b. Kedudukan Filsafat dalam Kehidupan Manusia
Untuk memberikan gambaran bagaimana kedudukan filsafat dalam kehidupan manusia maka terlebih dahulu diungkapkan kembali pengertian filsafat. Filsafat mengandung pengertian yaitu suatu ikhtiar untuk berfikir secara radikal, dalam arti mulai dari akarnya sampai mencapai kebenaran yang dilakukan dengan kesungguhan dan kejujuran melalui tahapan-tahapan pikiran. Oleh karena itu seorang yang berfilsafat adalah orang yang berfikir secara sadar dan bertanggung jawab dengan pertanggung jawaban yang pertama yaitu terhadap dirinya sendiri.
Kebenaran dalam pengetahuan yang diterima filsafat adalah apabila isi pengetahuan yang diusahakan sesuai dengan objek yang diketahui yang didasari oleh kebebasan berfikir (diatur oleh logika) untuk menyelidiki atau tata pikir yang bermetode, bersistem, dan berlaku universal, sehingga dengan demikian filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari ketetapan dan sebab-sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu (seluruh dunia dan alam ini), sebagai pandangan hidup. Apabila pandangan ini mengenai manusia maka meliputi segala soal hidup manusia : pikiran, budi, tingkah laku dan nilai-nilainya, dan tujuan hidup manusia baik di dunia maupun sesudah di dunia ini yang kemudian disebut dengan pedoman hidup.
Disamping itu ada pula tanggapan bahwa filsafat adalah suatu kegiatan perenungan yang bertujuan mencapai pengetahuan tentang hakikat dari segala yang nyata, tetapi filsafat sebenarnya untuk sampai pada pengertian yang lebih jauh dari sekedar persepsi, yaitu berupa kegiatan mental dalam wujud konseptualisasi.
Kedudukan filsafat dalam kehidupan manusia adalah : [8]
1.      Memberikan pengertian dan kesadaran kepada manusia akan arti pengetahuan tentang kenyataan yang diberikan oleh filsafat
2.      Berdasarkan dasar-dasar hasil kenyataan itu, maka filsafat memberikan pedoman hidup kepada manusia. Pedoman itu mengenai sesuatu yang terdapat di sekitar manusia itu sendiri seperti kedudukan dalam hubungan dengan yang lainnya. Dengan akal filsafat memberikan pedoman hidup untuk berpikir guna memperoleh pengetahuan. Dengan rasa dan kehendak maka filsafat memberikan pedoman tentang kesusilaan mengenai baik dan buruk.
Setelah tahun 1900-an muncullah filsafat pendidikan sebagai suatu ilmu baru, tiada lain adalah sebagai akibat adanya hubungan timbal balik antara filsafat dan pendidikan, untuk memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan pendidikan secara filosofis.

http://www.ayonikah.com/?mitra=ahdaf2ahdaf

[1] Muhammad Noor Syam,Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila,hal 153
[2] Prof.DR.H.Ramayulis,Filsafat Pendidikan Islam, hal 47-55
[3] Prof.DR.H.Jalaluddin,Drs.Abdullah Idi.M.Ed,Filsafat Pendidikan, hal 107-108
[4]  Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, hal 75-77
[5] Opcit hal. 48-55
[6] Drs. Prasetya, Filsafat Pendidikan,hal 146   
[7]  Ibid hal. 151
[8]  Ibid hal. 158

Tidak ada komentar: