Minggu, 18 Desember 2011

ASAL-USUL ISTILAH TASAWUF


ASAL-USUL ISTILAH TASAWUF
DAN DASAR-DASAR QUR’ANINYA

A.    Pengertian Tasawuf Secara Lughawi
Pertama, tasawuf berasal dari istilah yang  dikonotasikan dengan “ahlu suffah” (أَهْلُ اْلصُّفَّةِ), yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di serambi-serambi masjid
Kedua, ada yang mengatakan tasawuf  itu berasal dari kata “shafa” (صَفَاءٌ). kata “shafa” ini berbentuk fi’il mabni majhul sehingga menjadi isim mulhaq dengan huruf ya’ nisbah, yang berarti sebagai nama bagi orang-orang yang “bersih” atau “suci.” Maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinya dihadapan Tuhan-Nya.
Ketiga, ada yang mengatakan bahwa istilah tasawuf berasal dari kata “shaf” (صَفٌّ). Makna “shaf” ini dinisbahkan kepada orang-orang yang ketika shalat selalu berada di shaf yang paling depan.
Keempat, ada yang mengatakan istilah tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang dari Bani Shufah.
Kelima, tasawuf ada yang menisbahkannya dengan kata dari bahasa Grik atau Yunani, yakni “saufi” (سَوْفِىْ). Istilah ini disamakan maknanya dengan kata “hikmah” (حِكْمَةٌ), yang berarti kebijaksanaan. Orang yang berpendapat seperti ini adalah Mirkas, kemudian diikuti oleh Jurji Zaidan, dalam kitabnya Adab Al-Lughah Al-‘Arabiyyah”, yang menyebutkan bahwa para filosof Yunani dahulu telah memasukkan pemikiran atau kata-katanya yang dituliskan dalam buku-­buku filsafat yang penuh mengandung, kebijaksanaan. la mendasari pendapatnya dengan argumentasi bahwa istilah sufi atau tasawuf tidak ditemukan sebelum ada masa penerjemahan kitab-kitab yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Pendapat ini kemudian didukung, juga oleh Nouldik, yang, mengatakan bahwa dalam penerjemahan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab terjadi proses asimilasi. Misalnya, orang Arab mentransliterasikan huruf "sin"(س) menjadi huruf "shad"  (ص ( seperti dalam kata tasawuf (سَوْفٌ) menjadi tashawuf (تَصَوُّفٌ)[1]
Keenam, ada juga yang mengatakan tasawuf itu berasal dari kata “shaufanah”  yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu banyak yang tumbuh di Padang Pasir di tanah Arab dan pakaian kaum Sufi berbulu-buku seperti buah itu pula., dalam kesederhanaannya.[2]
Ketujuh, ada juga yang mengatakan tasawuf itu berasal dari kata “Shuf” (صُوْفٌ) yang berarti bulu domba atau wool.[3]
Dari ketujuh term di atas, yang banyak diakui kedekatannya dengan makna tasawuf  yang dipahami sekarang ini adalah term yang ketujuh. yakni term “Shuf.”[4] Mereka yang cenderung mengakui term ketujuh, antara lain Al-Kalabadzi, At-Syukhrawardi, Al-Qusyaeri, dan lainnya walaupun dalam kenyataannya tidak setiap kaum Sufi memakai pakaian wol.
Barmawie Umarie, mengatakan bahwa dari term-term di atas, belum ada yang menggoyahkan pendapat mengatakan bahwa tasawuf  itu berasal dari wazan (timbangan) tafa’ul (تَفَعُلٌ) yaitu: tafa’ala yatafa”alu-tafa”ulan (تَفَعَّلَ-يَتَفَعَّلُ-تَفَعُّلًا) dengan imbangannya, yaitu tashawwafa-yatashawwafu-tashawwufan (تَصَوَّفَ-يَتَصَوَّفُ-تَصَوُّفًا)[5]
Barmawie Umarie lebih lanjut menegaskan bahwa tasawuf dapat berkonotasi    makna  dengan      Tshawwafa al-Rajulu” (تَصَوَّفَ الرَّجُلُ) artinya: Seorang laki-laki telah men-tasawuf. Tasawuf.
B.     Pengertian Tasawuf berdasarkan Istilah
Pengertian tasawuf berdasarkan istilah, telah banyak dirumuskan oleh ahli, yang satu sama lain berbeda sesuai dengan seleranya masing-masing.
  1. Menurut Al-Jurairi. Ketika diranya tentang tasawuf, Al-Jurairi menjawab,
اَلدَّخُوْلُ فِى خُلُقٍ سُنِيٍّ وَالْخُرُوْجُ مِنْ كُلَّ خُلُقٍ دَنَوِي
Artinya :Memasuki segala budi (akhlak) yang bersifat sunni dan keluar dari budi pekerti yang rendah.”
  1. Menurut Al-Junaidi. Ia memberikan rumusan tentang tasawuf sebagai berikut ,
هُوَ أَنْ يُمْيِتَكَ الْحَقُّ عَنْكَ وَيُحْيِيَكَ بِهِ
Artinya :”(tasawuf) ialah bahwa yang Hak adalah yang mematikanmu, dan Hak-lah yang menghidupkanmu.”
أَنْ يَكُوْنَ مَعَ اللهِ بِلَا عَلَاقَةٍ
Artinya : “Adalah beserta Allah tanpa adanya penghubung”
  1. Menurut Abu Hamzah. Ia memberikan ciri terhadap ahli tasawuf adalah sebagai berikut,
عَلَامَةُ الصُّوْفِ الصَّادِقِ أَنْ يَفْتَقِرَ بَعْدَ الْغِنِى وَيَذُلَّ بَعْدَ الْعِزِّ وَيُخْفِيَ الشَّهْوَةَ.وَعَلَا مَةُ الصُّوْفِ الْكَاذِبِ أَنْ يَسْتَغْنِيَ بَعْدَ الْفَقْرِوَيَعِزَّ بَعْدَ الذُّلِّ وَيَشْتَهِرَ بَعْدَ الْخَفَاءِ.
Artinya : “Tanda sufi yang benar adalah berfikir setelah dia kaya,merendahkan diri setelah dia bermegah-megah, menyembunyikan diri setelah dia terkenal: dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megah setelah dia hina, dan tersohor setelah dia bersembunyi.”
  1. ‘Amir bin Usman Al-Makki pernah mengatakan,
أَنْ يَكُوْنُ الْعَبْدُ فِى كُلِّ وَقْتٍ بِمَاهُوَ أَوْلَى فِى الْوَقْتٍ
Artinya : “(Tasawuf) adalah seorang hamba yang setiap waktunya mengambil waktu yang utama.
  1. Menurut Muhammad Ali al-Qassab, tasawuf adalah akhlak yang mulia yang timbul pada masa yang mulia dari seorang yang mulia ditengah-tengah kaumnya yang mulia.
  2. Menurut Sayamnun tasawuf adalah bahwa engkau memiliki ssesuatu dan tidak dimiliki sesuatu.
  3. Ma’ruf al-karakhi, tasawuf adalah mengambil hakikat, dan berputus asa pada apa yang ada di tangan makhluk.
  4. Tasauf adalah membersihkan hati dari apa yang menggangu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (instink) kita memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia. Sifat suci kerohanian, dan bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasehat kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hakikat dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syari’at.


Ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menuju keabadian, saling mengingatkan antara manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syari’at Rasulullah dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhaan-Nya.
1.      Dasar-dasar Tasawuf dalam Al-Quran dan Hadis
  1. Dasar-dasar dalam Al-Quran
Dewasa ini, kajian tentang tasawuf semakin banyak diminati orang sebagai buktinya adalah misalnya semakin banyak buku yang membahas tasauf di sejumlah perpustakaan, di negara-negara yang berpenduduk muslim, juga negara-negara barat sekalipun yang bermayoritas masyarakat non muslim.
Al-Quran dan As-Sunnah adalah nash. Setiap muslim kapan dan di mana pun dibebani tanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata.
Tasawuf, pada awal pembentukannya, adalah akhlak atau keagamaan, sedangkan moral keagamaan ini banyak diatur dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sumber pertamanya adalah ajaran-ajaran Islam sebab tasawuf  ditimba dari Al-Quran As-Sunnah dan amalan serta ucapan para sahabat.
Abi nashr as-siraj ath-thusi, dalam kitabnya al-luma melihat bahwa la-qur’an dan Sunnah itulah para sufi pertama-tama mendasarkan pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku kerinduan dan kecintaan terhadap Illahi, ma’rifat, suluk (jalan, dan juga latihan-latihan rohaniyahnya mereka, yang mereka susun demi terealisinya tujuan kehidupan mistis.
Al-Quran merupakan Kitab Allah yang ada di dalamnya. Terkandung muatan-muatan ajaran Islam, baik aqidah, syari’ah maupun mu’amalah. Ketiga muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat-ayat yang termaktub dalam Al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran itu, di satu sisi memang ada yang perlu dipahami secara tekstual lahiriah, tetapi di sisi lain juga ada hal yang perlu dipahami secara kontekstual rohaniyah. Jika dipahami secara lahiriah saja, ayat-ayat Al-Quran akan terasa kau, kurang dinamis, dan tidak mustahil akan ditemukan persoalan yang tidak dapat diterima secara psikis.
Secara umum, ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya nanti melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Quran dan As-Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Al-Quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dapat saling mencintai (mahabbah) dengan Tuhan. Hal itu misalnya difirmankan Allah dalam Al-Quran :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £s?ötƒ öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ t$öq|¡sù ÎAù'tƒ ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk:Ïtä ÿ¼çmtRq6Ïtäur A'©!ÏŒr& n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# >o¨Ïãr& n?tã tûï͍Ïÿ»s3ø9$# šcrßÎg»pgä Îû È@Î6y «!$# Ÿwur tbqèù$sƒs sptBöqs9 5OͬIw 4 y7Ï9ºsŒ ã@ôÒsù «!$# ÏmŠÏ?÷sム`tB âä!$t±o 4 ª!$#ur ììźur íOŠÎ=tæ ÇÎÍÈ  
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”[6]
Dalam Al-Quran, Allah pun memperintahkan manusia agar senantiasa bertobat, membersihkan diri, dan memohon ampunan kepada-Nya sehingga memperoleh cahaya dari-Nya :
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R 4Ó|¤tã öNä3š/u br& tÏeÿs3ムöNä3Ytã öNä3Ï?$t«Íhy öNà6n=Åzôãƒur ;M»¨Zy_ ̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tPöqtƒ Ÿw Ìøƒä ª!$# ¢ÓÉ<¨Z9$# z`ƒÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB ( öNèdâqçR 4Ótëó¡o šú÷üt/ öNÍkÉ÷ƒr& öNÍkÈ]»yJ÷ƒr'Î/ur tbqä9qà)tƒ !$uZ­/u öNÏJø?r& $uZs9 $tRuqçR öÏÿøî$#ur !$uZs9 ( y7¨RÎ) 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇÑÈ  
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Pertemuan dengan Allah dimana pun hamba-hamba-Nya berada. Hal ini sebagaimana ditegaskan-Nya:
¬!ur ä-̍ô±pRùQ$# Ü>̍øópRùQ$#ur 4 $yJuZ÷ƒr'sù (#q9uqè? §NsVsù çmô_ur «!$# 4 žcÎ) ©!$# ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÊÊÎÈ  
Artinya : “ dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.[7]
Allah pun memberikan cahaya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman-Nya:
* ª!$# âqçR ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur 4 ã@sWtB ¾ÍnÍqçR ;o4qs3ô±ÏJx. $pkŽÏù îy$t6óÁÏB ( ßy$t6óÁÏJø9$# Îû >py_%y`ã ( èpy_%y`9$# $pk¨Xr(x. Ò=x.öqx. AÍhߊ ßs%qム`ÏB ;otyfx© 7pŸ2t»t6B 7ptRqçG÷ƒy žw 7p§Ï%÷ŽŸ° Ÿwur 7p¨ŠÎ/óxî ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? Ö$tR 4 îqœR 4n?tã 9qçR 3 Ïöku ª!$# ¾ÍnÍqãZÏ9 `tB âä!$t±o 4 ÛUÎŽôØour ª!$# Ÿ@»sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇÌÎÈ  
Artinya : “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Allah pun menjelaskan kedekatan manusia dengan-Nya, seperti disebutkan dalam firman-Nya:
#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ  
Artinya : “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”[8]
ôs)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqóuqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$# ÇÊÏÈ  
Artinya: “dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,(Q.S. Qaf:16)
Sufi berpendapat bahwa untuk mencari Tuhan, orang tak perlu lagi jauh-jauh. Ia cukup kembali ke dalam dirinya sendiri.[9] Lebih jauh lagi, Harun Nasution menegaskan bahwa Tuhan ada di dalam, bukan di luar diri manusia.[10]
Dan Al-Quran pun mengingatkan manusia agar tidak diperbudak kehidupan duniawi dan kemewahan harta benda yang menggiurkan.
Tingkat sabar berlandaskan pada firman Allah berikut ini :
3 ̍Ïe±o0ur šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÎÎÈ  
                                dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Tingkatan rida berdasarkan pada firman Allah berikut ini :
4 zÓÅ̧ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã 4
Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar".

  1. Dasar-dasar dalam Al-Hadis
Sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran, sebagaimana dijelaskan di atas, tasawuf juga dapat dilihat dalam kerangka hadis. Dalam hadis Rasulullah banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniyah manusia. Berikut ini beberapa matan hadis yang dapat dipahami dengan pendekatan tasawuf.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْعَرَفَ رَبَّهُ
Artinya : “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri berarti ia mengenal Tuhannya.”
كُنْتَ كَنْزًا مَخْفِيًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فِبِهِ عَرَفُوْنِي
Artinya : “aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
لَايَزَالَ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَا فِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتَ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يَبْصُرُبِهِ وَلِسَانُهُ الَّذِيْ يَنْطِقُ بِهِ وَيَدَهُ الَّذِيْ مَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّذِيْ يَمْشِى بِهَا فَبِي يَسْمَعُ فَبِيْ يَبْصُرُ وَبِي يَنْطَقِ وَبِى يَعْقِلُ وَبِي يَبْطُشُ وَبِي يَمْشِى
Artinya : “Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah Aku pendengarnya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berpikir, meninjau dan berjalan.”
Hadis di atas memberi petunjuk bahwa manusia dan Tuhan dapat bersatu. Diri manusia dapat lebur dalam diri Tuhan, yang selanjutnya dikenal dengan istilah fana’, yaitu fana’-nya makhluk sebagai yang mencintai kepada Tuhan seperti yang dicintainya. Namun, istilah “lebur” atau “fana” ini, menurut kami, harus dipertegas bahwa antara Tuhan dan manusia tetaplah ada jarak atau pemisah, sehingga tetap ada perbedaannya antara Tuhan dengan Hamba-Nya. Di sini hanya ditunjukkan keakraban antara makhluk dan Khaliknya.
Bisnis online bukan tipuan…!!!
Ingin sukses tanpa harus bekerja keras…???
Mendapat penghasilan dengan cara yang lebih mudah..??
Anda cukup mendaftar di member-member terkait, pilih sendiri jalan anda, mau yang 100% gratis, atau ingin berlipat ganda dengan investasi kecil…???
Inilah solusinya:
100% Gratis

Investasi dengan modal kecil untung besar




[1] Muhammad Ghalab, At-Tashawuf Al-Muqarin, Maktabah An-Nahdlah, Mesir, t,t., hlm. 26-27.
[2]Barmawie Umarie, Sistematika Tasawuf. Penerbit Siti Syamsiyah, Sala, 1966, hlm.9
[3] Atthoutlah Ahmad, Diktat Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf, Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Gunung Djati, Serang, 1985, hlm 96
[4] J. Spencer Trimingham, seorang orientalis, berpendapat bahwa tasawuf yang dalam bahasa orang Barat disebut mysticism lebih tepat berasal dari kata “Shuf” yang berarti pakaian yang terbuat dari bulu domba (lihat, J.Spencer Trimingham, The SufiOrders in Islam, Oxford University Press, London Oxford New York, 1973, hlm. 1
[5] Umarie,loc. cit  
[6] Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 54
[7] Al-Quran surat Al-Baqarah Ayat 115.
[8]Al-Quran Surat An-Nur ayat 35
[9]Ibid
[10]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hlm.60         

Tidak ada komentar: