Senin, 05 Desember 2011

AL-ISRAILIYAT


AL-ISRAILIYAT
           
Pada saat islam berkembang banyak bangsa yang masuk islam dengan berbagai latar belakang sosial maupun budaya. Ada yang masuk islam dengan ikhlas dan kesadarannya, tetapi ada juga yang didorong oleh motivasi tertentu.
Dijelaskan dalam Al-Qur’an:

“orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(Al-Baqarah 120)

            Perkembangan islam sangat pesat di masa nabi Muhammad SAW dan khulafaur rasyidin. Setelah nabi wafat dan pada awal pemerintahan Abu Bakar As-Siddiq menjadi khalifah, muncul suatu gerakan yaitu “Riddah” (menolak ajaran islam) dan kufur dengan motif ingin melepaskan diri dari kekuasaan islam.
Motif ini semakin menjadi dan banyak terjadi perselisihan, munculnya sekularisme dan perbedaan pandangan politik yang menyebabkan pandangan dalam teologi. Kontak-kontak tersebut telah mendorong pula lahirnya khurafat, abatil dan israiliyat, hadits-hadits palsu dan lain sebagainya.
Disadari atau tidak, terjadilah proses percampuran antara tradisi bangsa arab dengan tradisi bangsa Yahudi. Kisah Isra’ liyat merupakan konsekwensi logis dari proses akulturasi budaya dan ilmu budaya dan ilmu pengetahuan antara bangsa arab jahiliyah dan kaum Yahudi serta nasrani.

A.    Pengertian Israiliyat
  1. Secara Etimologi (Bahasa)
Israiliyat adalah bentuk jamak dari kata israiliyah, isim (kata benda) yang dinisbatkan pada kata israil dari bahasa ibrani yang berarti “hamba tuhan”.
  1. pengertian lain israiliyat dinisbatkan pada nabi ya’kub yang menurunkan banyak nabi, diantaranya nabi musa dan nabi isa.
  2. menurut Al-Zahabi secara etimologi israiliyat ada 2 pengertian:
  1. kisah dan dongeng kuno yang menyusup ke dalam tafsir dan hadits yang sumber periwayatannya kembali kepada sumber Yahudi, nasrani atau yang lain.
  2. Sebagai ahli tafsir dan hadits memperluas lagi pengertian israiliyat, sehingga meliputi cerita-cerita yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh islam ke dalam tafsir dan hadits yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.
  1. menurut Ahmad Khalil, israiliyat adalah kisah-kisah dari riwayat-riwayat ahli kitab, baik yang berhubungan dengan ajaran agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya. [1]
Ahmad Al-Khalil menyatakan bahwa israiliyat merupakan pembaharuan dari berbagai agama dan kepercayaan yang menyusup ke jazirah arab islam yang mereka dapati dari negeri-negeri yang mereka (Yahudi) singgahi selama perjalanannya ke timur maupun ke barat.
Yahudi dan nasrani disebut ahli kitab. Kitab-kitab Yahudi adalah Taurat, Zabur dan Syafar Musawiyah (Talmud), ketiganya dikenal dengan perjanjian lama (old testament) ajaran Yahudi yang dikembangkan secara lisan.
Didalam Al-Qur’an banyak disebut tentang bani israil yang dinisbatkan kepada Yahudi:

“telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”(Al-Maidah 78)


“dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali[848] dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".(Al-Isra’ 74)


“Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.(Al-Naml 76)

  1. secara terminologi israiliyat adalah seluruh riwayat yang bersumber dari orang-orang Yahudi dan nasrani. Serta selain keduanya yang masuk dalam tafsir dan hadits. Ada pula ulama tafsir dan hadits yang memberi makna israiliyat sebagai cerita yang bersumber dari musuh-musuh islam baik Yahudi, nasrani, maupun yang lainnya.


B.     Sebab Dan Sumber Al-Israiliyat
  1. Sebab-Sebab Israiliyat
Masuknya orang-orang Yahudi dan nasrani ke dalam lingkungan islam daik sebagai muslim atau sebagai dzimmi membantu tersebarnya israiliyat dan nashraniyat di kalangan umat islam. Akibatnya setelah tiba di zaman pembukuan tafsir Al-Qur’an banyak israiliyat yang terbukukan dalam tafsir. Tetapi bukan sebagai sumber hukum dan akidah. Hanya sebagai ilustrasi.
Sesungguhnya para ulama memberikan tafsir dan hadits yang menyatakan bahwa israiliyat itu bersumber dari orang-orang yahidi berdasarkan kebiasaan dan dominannya orang-orang Yahudi di dalam menyebar luaskan cerita-cerita palsu.
* ¨byÉftGs9 £x©r& Ĩ$¨Y9$# Zourºytã tûïÏ%©#Ïj9 (#qãYtB#uä yŠqßguø9$# šúïÏ%©!$#ur (#qä.uŽõ°r& ( žcyÉftGs9ur Oßgt/tø%r& Zo¨Šuq¨B z`ƒÏ%©#Ïj9 (#qãYtB#uä šúïÏ%©!$# (#þqä9$s% $¯RÎ) 3t»|ÁtR 4 šÏ9ºsŒ ¨br'Î/ óOßg÷YÏB šúüÅ¡Åb¡Ï% $ZR$t7÷dâur óOßg¯Rr&ur Ÿw tbrçŽÉ9ò6tGó¡tƒ ÇÑËÈ  
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.”(Al-maidah 82)

Tipu daya yang digunakan untuk menghancurkan islamyang merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Abdullah bin Saba’ adalah tokoh penyebar fitnah dan kesesatan. Di belakang orang-orang Yahudi masih banyak orang-orang yang saling membantu dalam menghancurkan islam. Mereka menyebarluaskan cerita tentang keadaan keluarga nabi dengan fitnah dan maksud jahat agar mereka dapat bergerak di tengah-tengah kaum muslimin, dan juga berusaha menghancurkan kesucian akidah umat islam. Mereka pada umumnya mempunyai andil yang besar dalam memasukkan cerita israiliyat ke dalam tafsir dan hadits Rasulullah saw.
Sebelum islam datang ada satu golongan yang disebut dengan kaum Yahudi, sekelompok kaum yang dikenal dengan peradaban tinggi dibandingkan bangsa arab masa itu. Mereka membawa pengetahuan keagamaan berupa cerita-cerita keagamaan dari kitab suci mereka. Perpindahan besar-besaran pada tahun 70 M, yang lari dari siksaan dan ancaman yang datang dari Titus.
Pedagang arab jahiliyah banyak melakukan perjalanan dagang (al-rillah) pada musim dingin ke negri syam (syiria).
É#»n=ƒ\} C·÷ƒtè% ÇÊÈ   öNÎgÏÿ»s9¾Î) s's#ômÍ Ïä!$tGÏe±9$# É#ø¢Á9$#ur ÇËÈ  
“karena kebiasaan orang-orang Quraisy.(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas”(Quraisy 1-2)

Banyak penduduk yang terdiri dari ahli kitab. Pertemuan antara pedagang arab jahiliyah dengan ahli kitab menjadi pendorong masuknya kisah-kisah Yahudi ke dalam bangsa arab.
  1. Sumber Israiliyat
Berkembangnya bibit israiliyat, yaitu kontak langsung kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi ahli kitab. Indikasi bakal masuknya israiliyat ini ditandai dengan adanya suatu majlis pengajian kitab-kitab agama serta ulama-ulamanya yang disebut “MIDRAS”. Pengajian ini diadakan oleh pendeta-pendeta Yahudi. Bahkan ada dari kalangan sahabat yang mendatangi madras tersebut.
Masuknya israiliyat ke dalam tafsir Al-Qur’an telah ada semenjak sahabat, karena sahabat terkemuka dalam bidang tafsir. Dan di antara sepulang orang sahabat itu adalah Umar bi Khattab, yang pernah mengunjungi madras. Namun demikian para sahabat tidak gegabah dalam menerima kisah-kisah israiliyat, karena mereka senantiasa mengingat pesan Rasulullah:
Janganlah kamu benarkan orang-orang ahli kitab, dan jkanganlah kamu dustakan mereka. Katakanlah olehmu, kamu beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan kepada kami, dan juga apa-apa yang diturunkan kepada kamu.
C.    Pendapat Ulama Tentang Israiliyat
  1. Ibnu Taimiyah (1263-1328)
Di dalam kitabnya “Muqaddimah Fi ushul Al-tafir Israiliyat” (pokok-pokok ilmu tafsir) halaman 26-28 mengemukakan bahwa: Abdullah bin Amr bin as pada perang yarmuh mendapatkan dua orang teman dari ahli kitab lalu menerima hadits dari keduanya, karena memahami maksud hadits:
بلغواعزولوا ية,وخدثواعن بني إسر ئيل ولاحرج
“sampaikanlah oleh kamu sekalian dari aku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah dari bani israil yang demikian itu kalian tidak berdosa.”
Seolah-olah hadits tersebut mengizinkan periwayatan cerita israiliyat. Menurut Ibnu Taimiyah cerita israiliyat itu dibagi tiga:
a.       cerita israiliyat yang shahih dan boleh diterima
b.      israiliyat yang dusta karena bertentangan dengan syari’at dan harus ditolak
c.       israiliyat yang tidak diketahui kebenarannya dan kepalsuannya, itu didiamkan, tidak didustakan dan tidak dibenarkan, jangan mengimaninya dan jangan pula membohongkannya.
  1. imam al-biqa’I (W 881 H)
Di dalam kitabnya “Al-Aqwal Al-qawinah Fi Al-hukmi Al-naqli” mengatakan bahwa hukum menukilkan cerita dari bani israil yang tidak dibenarkan dan tidak pula didustakan oleh kitab kita adalah boleh, demikian pula dari pemeluk islam karena tujuannya hanyalah ingin mengetahui semata. Dia juga membolehkan cerita-cerita israiliyat dimuat dalam tafsir Al-Qur’an selama tidak bertentangan dengan ajaran islam (Al-Qur’an dan Hadits). Dan beliau mengingatkan bahwa cerita itu dimuat hanya sebagai isti’nas saja, bukan untuk dijadikan dasar akidah dan juga bukan dijadikan dasar hukum.
  1. Ibnu Katsir (W 774 H)
Membagi israiliyat menjadi tiga macam:
a.       cerita-cerita yang sesuai kebenarannya dengan Al-Qur’an, berarti cerita itu benar. Dalam hal ini cukuplah Al-Qur’an yang menjadi pegangan, kalaupun diambil cerita tersebut hanyalah sebagai bukti adanya saja, bukan untuk dijadikan pegangan atau hujah
b.      cerita-cerita yang terang-terang dusta, karena menyalahi islam, merusak akidah kaum muslimin
c.       cerita-cerita yang didiamkan (maskud Anhu), yaitui cerita yang tidak ada keterangan kebenarannya dalam Al-Qur’an, akan tetapi juga tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Cerita srupa ini tidak boleh dipercaya dan tidak boleh pula (umat islam) mendustakannya. Misalnya nama-nama Ashabul kahfi dan jumlahnya namun cerita tersebut boleh diriwayatkan dengan hikayat.
  1. Ibnu Al-‘arabi (W 543 H)
Menurutnya bahwa riwayat dari bani israil yang boleh untuk diriwayatkan dan dimuat dalam tafsir Al-Qur’an adalah hanya terbatas pada cerita mereka yang menyangkut keberadaan diri mereka sendiri. Sedangkan riwayat mereka yang menyangkut orang lain masih sangat perlu dipertanyakan dan membutuhkan penelitian yang lebuh cermat
  1. Abdullah Bin Amru Bn Ash ( W 63 H)
Dalam perang yarmuk beliau menemukan beberapa kitab Yahudi dan nasrani, lalu diambilnya dan dipelajarinya baik-baik, kemudian diceritakannya kepada saudara-saudaranya kaum muslimin, tujuannya bukan untuk dasar I’tiqad dan bukan pula untuk dasar hukum, akan tetapi hanya sekedar untuk istisyahad.
  1. Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas (W 32/3 H : 68 H)
Kedua tokoh ini mengatakan bahwa meriwayatkan kisah-kisah israiliyat boleh dan banyak meriwayatkan aqwal ahli al-kitab 56 dari empat orang yang terkenal yang sudah masuk islam, yaitu Ka’ab Al-akhbari, Wahab bin Munabah, Abdullah bin Salam, dan Tamim Al-dari. Mereka terkenal tidak membuat cerita-cerita palsu, cerikan yang mereka sampaikan benar.
sumber: Abu Anwar, Ulumul Qur’an, 2002, Amzah Sinar Grafika Offsed, Pekan Baru


[1] Abu Anwar,. Ulumul Qur’an (Sebuah Pengantar, 2002) h. 105
   H. Hasyim, (Ulumul Qur’an 2008). H. 201

Tidak ada komentar: